Senin, 22 Oktober 2012

 

 

 

Nilai Akhlak Vs Nilai Akademik

Sebuah kata yang membuatku tercengang, kaget, dan ingin marah. Sebuah cerita yang kudengar dari seorang teman.
“Tak pernah aku diperlakukan seperti itu?”
“Seperti apa maksudnya?”
Seorang anak berkata kasar dan bersikap kurang ajar padaku,” kata temanku.
“Kok bisa?”
“Masalahnya kemarin ketika dia melakukan kesalahan, aku ingatkan sampai kesalahannya itu merugikan orang di sampingnya. Aku coba untuk menegur. Bukan hanya sekali teguran, teguran yang kulakukan sudah 3 kali. Yang terakhir, aku mengambil kertasnya untuk dikerjakan di depan kelas. Ada meja dan bangku. Dia pun duduk bisa duduk di dekatku. Eh, ditegur nggak mau, dia malah marah dan berkata kasar.”
“Oh, begitu…”
“Semua mata melihat dan mendengar apa yang dikatakan serta menjadi saksi. Di tambah lagi ada teman lain yang masuk ke ruangan itu.”
“Terus apa yang kamu lakuka?” Tanyaku.
“Aku hanya diam karena aku takut si anak tambah malu dan lebih bersikap kurang ajar, tapi aku tidak akan diam saja. Aku akan melakukan tindakan karena kejadian ini sudah terjadi berkali-kali namun didiamkan saja. Bagiku itu bukan solusi dan aku harus bicara langsung dengan orang tuanya.”
“Setelah kejadian itu, apa yang dilakukan anak itu ?”
“Dia mencoba meminta maaf, tetapi aku tidak mengucapkannya walaupun hatiku sudah memaafkan. Aku ingin dia berpikir bahwa meminta maaf tanpa tahu kesalahan itu tidak baik untuk dilakukan.”
“Apa kamuu memaafkannya?”
“Tentu saja. Marahku hanya 5 menit, selebihnya aku sudah memaafkan. Tenang, aku tidak ingin kemarahan ada di dalam hatiku.”
“Apakah benar kamu menelepon orang tuanya. Orang tuanya kan polisi?”
“Aku tak peduli. Apa yang aku lakukan aku tahu merupakan bagian dari pendidikan disini. Aku tidak takut dengan apa yang akan terjadi jika si anak menyatakan hal yang tidak benar tentang kejadian itu,” kata temanku.
“Kamu tahu, anak itu menceritakan kejadian itu tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya. Kalau pun bennar, ceritanya tidak lengkap dan terkesan dikurangi. Aku pikir dia takut dengan hukuman yang bakal dia terima akibat perbuatannya,” jelasnya kembali.
Itulah teman, ketika suatu jabatan atau kekuasaan dijadikan suatu tameng atas perbuatan seseorang agar dianggap benar, yang terjadi adalah kejadian seperti di atas. Belajar dengan merasa memiliki suatu instansi atau merasa ada pendukung jika salah, maka yang ada adalah ilmu kehancuran. Semoga mendapat hikmahnya dari cerita temanku ini :-)
Pilih akhlaknya baik atau prestasi di sekolah buruk
atau
akhlak buruk, tetapi prestasi di sekolah baik
atau
akhlak baik dan prestasi sekolah baik
Dipastikan ingin memilih yang ke-3 kan?
Ya…Anda adalah orang tua, anak pun cerminan didikan Anda. Silahkan memilih :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar